Mengintip Satwa Liar
di Pulau Handeuleum
Dikutip dari tabloid SENIOR
Teks : Diana Yunita Sari
Ingin melihat hutan bakau? Coba saja datang ke Pulau Handeuleum, Ujung Kulon. Saat menyusuri sungai di salah satu hutan terbesar di dunia ini, selain menikmati keindahan alam, kita juga bisa mengamati aneka satwa liar.
Perjalanan melahkan selama hampir 8 jam terbalas begitu menjejakan kaki di Pulau Handeuleum. Jarak tempuh darat sekitar 6 jam dari Jakarta menuju Sumur - Banten, ditambah perjalanan laut menggunakan boat berkekuatan 33 PK selama 1,5 jam sambil diguyur air hujan, menjadi tidak ada artinya lagi.
Anggota rombongan dengan berjumlah 34 orang yang ikut dalam perjalanan menyusuri sungai di Handeuleum mulai berdecak kagum akan hijaunya kepulauan yang berada didalam kawasan Ujung Kulon itu. Belum lagi pantainya yang sangat bersih. Rasanya ingin menceburkan diri kelaut bening tersebut.
Sayangnya terlalu banyak karang dan akar pohon bakau atau mangrove di pulau ini sehingga tidak terlalu cocok untuk berenang atau bahkan snorkeling. Karang kecil juga banyak menghiasi jalansetapak dari dermaga menuju areal perkemahan, tempat yang akan kami gunakan untuk menginap.
Di Pulau Handeuleum memang banyak ditemui hutan bakau. Menurut Andrey Yudaprasati dari Nature Trekker Indonesia yang mengatur perjalanan ini, Pulau Handeuleum terletak digugusan pulau yang umumnya ditumbuhi oleh spesies bakau. Bila air laut pasang, sebagian dari pulau akan terendam.
"Di antara gugusan pulau tersebut, Handeuleum merupakan pulau terbesar. Luasnya sekitar 8 hektar," ujar Andrey. Dari luas tersebut hanya 10 persen saja yang dimanfaatkan sebagau tempat wisata
Hutan mangrove atau bakau yang terdapat di wilayah tersebut, terutama di daerah Cikabeumbem, merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Itu pula yang menyebabkan kawasan ini menjadi perjatian World Wildlife Fund (WWF). Bekerja sama dengan departemen kehutanan, WWF mengajarkan kepada penduduk setempat untuk tetap menjaga kelestarian dan keberadaan hutan bakau.
Untuk Bertelur
Sejauh ini masih banyak orang yang belum paham akan pentingnya hutan bakau tersebut.Padahal fungsi mangrove sangat berkaitan dengan pengembangan ekosistem biota laut dan untuk mengatasi abrasi atau pengikisan tanah oleh air laut.
"Binatang laut dan beberapa jenis ikan besar akan mencari kawasan mangrove untuk bertelur karena tempatnya aman," ujar Irwan Budaya, staf Wanawisata Departemen kehutanan yang turut serta dalam perjalanan ini.
Selain tidak khawatir akan ombak, pohon bakau juga berfungsi melindungi telur-telur ikan dari serangan binatang laut lainnya. Burung pun menggunakan kawasan bakau tersebut untuk berkembang biak.
Sayangnya, pohon bakau yang berada disekitar kawasan pulau Handeuleum sudah benyak berkurang, jelas Irwan. Dikarenakan kawasan yang dimanfaatkan untuk wisata sejak tahun 90-an ini beberapa diantaranya ada berubah fungsi menjadi tambak ikan.
Untung saja saat ini beberapa lembaga swadaya masyarakat yang melibatkan penduduk sekitar mulai melakukan penanaman pohon bakau dan pembenihan baru. Dengan begitu kelanjutan hutan bakau dan satwa yang berada di kawasan pulau tersebut diharapkan akan tetap terjaga. Dikawasan ini juga banyak terdapat aneka satwa seperti burung, biawak maupun rusa. Memang tidak semua satwa berhasil kami lihat, tetapi selama tiga hari; dua rusa yang muncul dari balik semak seperti hendak 'menemani' SENIOR dan anggota rombongan lainnya.
Menggunakan Kano
Hutan bakau semakin indah dinikmati manakala rombongan menyusuri Cikabeumbem pada sore hari dan sungai Cigenteur pada pagi hari berikutnya dengan menggunakan kano. Kano yang merupakan perahu tradisional dan terbvuat dari batang pohon ini hanya dapat mengankut 7 - 8 orang.
Sebelum berangkat kami dianjurkan untuk mengoleskan obat anti nyamuk, menggunakan jaket atau baju berlengan panjang serta mengkonsumsi obat anti malaria (H-3) sebelum memulai penyusuran. Maklum saja, hutan bakau sangat identik dengan nyamuk malaria. Walau kasus malaria di daerah ini jarang terjadi, lebih baik dilakukan pencegahan sebelumnya.
Indera penglihatan terasa semakin dimanjakan setelah melihat secara langsung deretan hutan bakau dan daun nipah. Kicau burung yang bersahutan pun kerap terdengar selama penyusuran.
Suara aneka satwa liar lainnya semakin jelas terdengar kala SENIOR beserta rombongan mengarah ke Sungai Cigeunter.
Sesekali monyet atau bahkan ular yang kerap ditemui bergelantungan diatas kepala kami terus menemani selama menyusuri daerah 'perawan' ini. Sayangnya pohon-pohon tempat para ular bergelantungan berada cukup tinggi, sehingga SENIOR kesulitan untuk mengabadikannya.
Muara sungai Cigeunter ini letaknya sekitar dua kilometer arah barat Pulau Handeuleum. Sungai ini sudah berada didalam kawasan Pulau Jawa. Dengan lebar sungai yang hanya sekitar enam meter membuat iringan kano yang dipimpin oleh jagawana Edi Raedi harus berjalan beriringan.
Tidak Bertemu Badak
Selama penyusuran, Edi mewanti-wanti pada kami agar tidak ribut. Karena suara yang terlampau keras akan mengganggu satwa yang berada dikawasan ini.
Sayangnya disana kami tidak bisa melihat badak. Menurut Edi; yang sudah lama menjadi jagawana disana, penciuman badak sangat tajam.
"Mereka bisa mencium kehadiran manusia dari jarak beberapa mil. Makanya agak sulit untuk bertemu badak. Kalaaupun bertemu, itu benar-benar suatu kebetulan belaka", katanya seraya tersenyum.
Nah, kalau sudah bertemu, ia menyarankan kami untuk bertemu dibalik pohon besar. Itu sebabnya para peneliti yang akan melakukan pengamatan badak, biasanya 'tinggal' diatas pohon. Saat ini populasi Badak Jawa yang berada di Ujung Kulon hanya sekitar 50 ekor.
Setelah satu jam menyusuri liarnya sungai yang sangat jernih ini, perjalanan dihentikan untuk dilanjutkan dengan trekking kedalam hutan hutan sambil sesekali melewati beberapa tumbangan pohon besar untuk tiba di air terjun kecil yang mirip dengan mata air. Melihat air yang begitu bersih dan jernih itu, SENIOR berikut rekan lainnya langsung menceburkan diri di sana. Segarrrrr.....
Rasanya perjalanan selama tiga hari yang diisi dengan penyusuran sungai, menikmati keindahan hutan bakau di Pulau Handeuleum masih belum cukup. Walau badan terasa lelah, namun hati ini terasa senang dan pikiranpun kembali segar.@Diana Yunita Sari(SENIOR)